MAKALAH PERGAULAN DALAM ISLAM
PERGAULAN DALAM ISLAM
Dosen Pengampu :
Agung Kuswantoro,S.Pd., M.Pd.
Disusun oleh :
Shelly Khalimatus Shafira 8111422004
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN AJARAN 2022/2023
DAFTAR ISI
BAB
I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
Adab Pergaulan Dalam
Agama Islam
BAB
II PENUTUP
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Manusia
adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya membutuhkan kehadiran orang lain.
manusia hidup saling berinteraksi dan berbaur satu sama lain. Allah SWT menciptakan manusia dalam berbagai
suku, bangsa, bahasa yang berbeda beda. Namun Allah SWT menghendaki manusia agar saling
mengenal satu sama lain.
Sebagai
makhluk sosial, manusia tak bisa lepas dari masyarakat. Begitu pula dengan remaja, ia memerlukan
interaksi dengan orang lain untuk mencapai kedewasaannya. Yang perlu dicermati
adalah bagaimana seorang remaja itu bergaul, dengan siapa, dan apa saja dampak
pergaulannya itu bagi dirinya, orang lain, dan lingkungannya. Untuk itu kita
lihat terlebih dahulu pengertian pergaulan. Pergaulan berasal dari kata gaul.
Pergaulan itu sendiri maksudnya kehidupan sehari-hari dalam persahabatan
ataupun masyarakat. Namun tidak demikian dikalangan kebanyakan remaja saat ini.
Gaul menurut dimensi remaja-remaja yang katanya modern itu adalah ikut dalam
trend, mode, dan hal lain yang behubungan dengan keglamoran hidup. Harus masuk
kedalam geng-geng, sering nongkrong dan berpergian diberbagai tempat seperti
mall, tempat wisata, game center dan lain-lain. Pada
akhirnya, gaul dimensi remaja akan menimbulkan budaya konsumtif.
Patut
disayangkan pula dari “gaul” kebanyakan remaja saat ini adalah standar nilainya
diambil dari tradisi budaya ataupun cara hidup masyarakat nonmuslim. Contoh,
baju yang dipakai itu modelnya harus sesuai dengan mode-mode yang berkembang di
dunia internasional saat ini. Dan bisa kita lihat pakaian-pakaian tersebut
jarang sekali ada yang cocok dengan kriteria pakaian yang pantas secara Islam.
Solidaritas dan kesetiakawanan sering dijadikan
landasan untuk terjun kedunia hura-hura. Dengan “setia kawan” itu pula
kebanyakan remaja mulai merokok, minum minuman keras, mengonsumsi narkoba, dan
bahkan sex bebas. Kalau tidak ikut kegiatan-kegiatan geng ataupun teman
nongkrong bisa dianggap tidak “setia kawan”. Paradigma seperti itulah yang
menggerayangi pikiran sebagian remaja masa kini. Sebenarnya dengan tindakan itu
mereka telah merusak kemurnian makna dari solidaritas dan kesetiakawanan itu sendiri.
Jika ditinjau lebih dalam “gaul” tidak
akan menimbulkan banyak dampak negatif jika standar nilai yang dipakai untuk
mendefinisikan gaul itu, standar nilai yang sesuai dengan syariat Islam dan
juga budaya timur yang penuh dengan tata karma dan
kesopanan. Hanya saja, merubah sesuatu yang sudah mendarah daging disebagian
remaja saat ini tidaklah mudah. Semua itu memerlukan sinergi dari semua pihak,
baik orang tua, keluarga, pemuka masyarakat, pemerintah, dan yang tak kalah
pentingnya adalah peran kita sendiri sebagai remaja yang akan menjalani
kehidupan dalam bingkai kata “gaul” itu sendiri1.
Rumusan
Masalah
Adapun
masalah yang akan dibahas dari tema yang diangkat berdasarkan bahan kajian yang
diperoleh diantaranya pengertian pergaulan menurut Islam, adab atau tata
cara bergaul dan hikmah bergaul dengan tatacara Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
Definisi Pergaulan
Pergaulan merupakan proses korelasi yang dilakukan oleh
individu dengan individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok. Juga, pergaulan adalah salah satu cara
seseorang untuk berinteraksi dengan alam sekitarnya. Pergaulan merupakan fitrah
manusia sebagai makhluk sosial yang tak mungkin bisa hidup sendirian. Manusia juga
memiliki sifat tolong-menolong dan saling membutuhkan satu sama lain. Interaksi
dengan sesama manusia juga menciptakan kemaslahatan besar bagi manusia itu
sendiri dan juga lingkungannya. Berorganisasi, bersekolah, dan bekerja
merupakan contoh-contoh aktivitas bermanfaat besar yang melibatkan pergaulan
antar manusia. Namun, pergaulan tanpa dibentengi iman yang kokoh akan mudah
membuat seorang muslim terjerumus dalam pergaulan yang salah. Kita lihat di
zaman sekarang, banyak kejadian yang dapat membuat kita mengelus dada.
Pergaulan bebas, video mesum, perkosaan, dan berbagai bentuk perilaku
penyimpangan lainnya. Semua itu bersumber dari pergaulan yang salah dan tidak
dilandaskan pada kepatuhan terhadap ajaran al-Qur’an.
Oleh
sebab itu, merupakan suatu hal yang sangat penting mengetahui dan memahami
pergaulan-pergaulan dalam islam. Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa dengan
tata cara pergaulan dalam islam, mereka akan merasa canggung atau barangkali
malah merasa tertekan karena pergaulan dalam islam itu terlihat begitu kaku dan
tidak seperti pergaulan yang umum ditemui di masyarakat.
Islam adalah agama yang syamil
(menyeluruh) dan mutakamil (sempurna). Agama mulia ini diturunkan dari Allah
Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui tentang seluk beluk ciptaan-Nya. Dia
turunkan ketetapan syariat agar manusia hidup tenteram dan teratur. Diantara
aturan yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia adalah aturan mengenai tata cara
pergaulan antara pria dan wanita. Seperti ungkapan terdahulu bahwa adanya tata
cara pergaulan dalam islam itu sebenarnya bukan untuk membatasi namun untuk
menjaga harkat dan martabat manusia itu sendiri agar tidak sama dengan tata
cara dan tatanan para hewan dalam bergaul. Bila satu tuntunan itu diambil dengan
kerendahan hati dan keinginan untuk berbakti kepada Ilahi, maka tak ada hal
sulit untuk mengikuti tuntunan yang baik itu. Terkesan sulit karena melihatnya dari
sisi nafsu dan kepentingan duniawi. Bila memang belum mampu menjalankan
tuntunan yang sebenarnya, jangan ditantang tuntunan itu. Cukup tanam dalam hati
bahwa diri akan selalu berusaha sekuat tenaga mengikuti aturan yang
sesungguhnya. Kalau menentang atau bahkan menantang, itulah tanda kesombongan
diri terhadap Sang Maha Kuasa2.
Adab Pergaulan Dalam Agama Islam
a) Pergaulan seorang muslim dengan Non
muslim
Dalam perkara-perkara umum (sosial) kita tetap menjalin
hubungan yang baik dengan non muslim sekalipun. Contoh, Nabi berdiri ketika
iring-iringan jenazah non muslim melewati Beliau. Sahabat Anas Ra berkata,
"Kami disuruh oleh Rasulullah Saw agar jawaban kami tidak lebih daripada
"wa'alaikum". (HR. Ad-Dainuri).
Penjelasan:
Yakni ketika orang non muslim (Yahudi, Nasrani, dan
lain-lain) memberi salam kepada seorang muslim maka jawabannya tidak boleh
lebih dari: "Wa'alaikum," artinya: "Dan juga bagimu". Namun
jika yang mengucapkan salam tersebut orang Islam, maka kita harus membalasnya
dengan ucapan yang lebih baik, atau minimal sama.
b) Pergaulan sesama muslim
Sesama muslim adalah bersaudara, seperti tubuh yang satu
dan seperti satu bangunan yang kokoh dan saling mendukung antar bagiannya.
Pergaulan sesama muslim dibalut dengan ukhuwah Islamiyah. Ada banyak hak
saudara kita atas diri kita, diantaranya sebagaimana dalam hadits Nabi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ
صلى الله عليه وسلم ( حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا
لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا
اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ
وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ ) رَوَاهُ
مُسْلِمٌ
1) Jika diberi salam hendaknya menjawab
2) Jika ada yang bersin hendaknya kita doakan
3) Jika diundang hendaknya menghadirinya
4) Jika ada yang sakit hendaknya kita jenguk
5) Jika ada yang meninggal hendaknya kita sholatkan dan
kita antar ke pemakamannya
6) Jika dimintai nasihat hendaknya kita memberikannya.Juga,
tidak meng-ghibah saudara kita, tidak memfitnahnya, tidak menyebarkan aibnya,
berusaha membantu dan meringankan bebannya, dan sebagainya.
c) Pergaulan antar generasi
Yang tua menyayangi yang lebih muda. Yang muda
menghormati yang lebih tua.
Dari Abu Musa Al Asy’ari berkata,
إن من إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم وحامل القرآن غير
الغالى فيه ولا الجافى عنه وإكرام ذي السلطان المقسط
"Sesungguhnya termasuk
mengagungkan Allah adalah memuliakan orang yang sudah tua, orang yang membaca
Al Qur'an yang tidak berlebihan dan tidak meninggalkannya, serta memuliakan
pemimpin yang adil."
Hasan, di dalam
kitab Takhrijul-Misykati (4972), At-Ta'liqu Ar-Raghib (1/66). Abu Daud dengan riwayat
yang marfu’.
d) Pergaulan dengan orang yang dihormati
Hormatilah orang yang dihormati oleh kaumnya. Bagi
orang-orang yang biasa dihormati, jangan gila hormat, penghormatan harus tetap
dalam bingkai syariat Islam. Contoh orang-orang yang bisa dihormati: tokoh
masyarakat, pejabat atau penguasa, orang-orang yang mengajari kita, dan
sebagainya.
e) Pergaulan dengan orangtua dan keluarga
Bersikap santun dan lemah lembut kepada ibu dan bapak, terutama jika telah
lanjut usianya. Terhadap keluarga, hendaknya kita senantiasa saling
mengingatkan untuk tetap taat kepada ajaran Islam. Sebagaimana Nabi telah
melakukannya kepada Ahlul Bait. Dan Allah berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.”(at-Tahriim: 6).
f)
Pergaulan dengan tetangga
Tetangga harus kita hormati. Misalnya dengan tidak
menzhalimi, menyakiti dan mengganggunya, dengan membantunya, dengan
meminjaminya sesuatu yang dibutuhkan, memberinya bagian jika kita sedang
memasak. Dari Abu Dzarr, dia berkata.
٨٣/١١٣ - أَوْصَانِى
خَلِيْلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ إِسْمَعْ وَأَطِعْ وَلَوْ
لِعَبْدِ مُجَدَّعِ اْلأَطْرَافِ وَإِذَا صَنَعْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا
ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيَْرانِكَ فَاَصِبْهُمْ مِنْهُ بِمَعْرُوْفٍ
"Kekasihku (Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam) berwasiat kepadaku dengan tiga hal,
'Dengarkanlah dan taatilah sekalipun kepada seorang hamba yang terpotong
jari-jarinya. Apabila engkau membuat sayur maka perbanyaklah airnya, kemudian
lihatlah jumlah keluarga dari tetanggamu lalu berikanlah kepada mereka air itu dengan
baik.”
g) Perggaulan antar jenis
Sudah menjadi fithrah,
laki-laki tertarik kepada wanita dan demikian pula sebaliknya. Islam telah
mengatur bagaimana rasa tertarik dan rasa cinta diantara dua jenis manusia itu
dapat disalurkan. Bukan dengan pacaran dan pergaulan bebas. Tetapi dengan
ikatan yang kuat (mitsaq ghaalizh) yaitu pernikahan. Jadi, ada batasan-batasan
pergaulan antara laki-laki dan perempuan diluar pernikahan.
h)
Rambu-rambu islam tentang pergaulan
Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan mutakamil
(sempurna). Agama mulia ini diturunkan dari Allah Sang Maha Pencipta, Yang Maha
Mengetahui tentang seluk beluk ciptaan-Nya. Dia turunkan ketetapan
syariat agar manusia hidup tenteram dan teratur.
Diantara aturan yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia
adalah aturan mengenai tata cara pergaulan antara pria dan wanita. Berikut
rambu-rambu yang harus diperhatikan oleh setiap muslim agar mereka terhindar
dari perbuatan zina.
1.
hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari
melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan
berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman; hendaklah mereka menahan
pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih baik bagi
mereka…katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman; hendaklah mereka menahan
pandangannya dan menjaga kemaluannya…” (QS. 24: 30-31).
Awal
dorongan syahwat adalah dengan melihat. Karena itu jagalah mata agar terhindar
dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda, “Wahai Ali,
janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram)
dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi
tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).
2.
hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing
dengan cara berbusana Islami. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman,
“…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak
daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS.
24: 31).
Dalam
ayat lain Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan
anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah
mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. 33: 59)
Dalam
hal menjaga aurat, Nabi menegaskan sebuah tata krama yang harus diperhatikan,
Beliau bersabda: “Tidak dibolehkan laki-laki melihat aurat (kemaluan) laki-laki
lain, begitu juga perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan
tidak boleh laki-laki berkumul dengan laki-laki lain dalam satu kain, begitu
juga seorang perempuan tidak boleh berkemul dengan sesama perempuan dalam satu
kain.” (HR. Muslim).
3.
tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada
perbuatan zina (QS. 17: 32) misalnya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan
jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan
hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai
mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan (HR.
Ahmad).
4.
menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa
‘membangkitkan selera’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah,
“Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu
bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara hingga berkeinginan orang
yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS.
33: 31) Berkaitan dengan suara perempuan Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan
dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lunak
sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3)
5.
hindarilah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk
berjabatan tangan sebagaimana dicontohkan Nabi saw, “Sesungguhnya aku tidak
berjabatan tangan dengan wanita.” (HR. Malik, Tirmizi dan Nasa’i). Dalam
keterangan lain disebutkan, “Tak pernah tangan Rasulullah menyentuh wanita yang
tidak halal baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini dilakukan Nabi tentu
saja untuk memberikan teladan kepada umatnya agar melakukan tindakan preventif
(pencegahan) sebagai upaya penjagaan hati dari bisikan syaithan. Wallahu a’lam.
Selain dua hadits di atas ada pernyataan Nabi yang demikian tegas dalam hal
ini, Beliau bersabda: “Seseorang dari kamu lebih baik ditikam kepalanya dengan
jarum dari besi daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.”
(HR. Thabrani).
6.
hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara
pria dengan wanita dalam satu tempat. Hal ini diungkapkan Abu Asied,
“Rasulullah saw pernah keluar dari masjid dan pada saat itu bercampur baur
laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau berkata: “Mundurlah kalian (kaum
wanita), bukan untuk kalian bagian tengah jalan; bagian kalian adalah pinggir
jalan (HR. Abu Dawud). Selain itu Ibnu Umar berkata, “Rasulullah melarang
laki-laki berjalan diantara dua wanita.” (HR. Abu Daud)3.
Manfaat pergaulan
Telah di jelaskan dalam sabdanya bahwa
, Rasulullah bersabda, “Seseorang itu menurut agama temannya, karena itu
hendaknya seseorang diantara kalian melihat dengan siapa dia bergaul.” ( HR. Adu Dawud dan Tirmidzi
dari abu Hurairah ).
Karena
itu tidak heran apabila seseorang itu merupakann guru bagi orang lain di
sekitarnya. Kepribadian seseorang itu dapat menular atau tertular orang lain.
Demikian halnya dalam etika, pergaulan dan hubungannya dengan orang lain.
Penularan itu disebabkan oleh pengaruh kedekatan dan pengaruh cinta. Dia tidak
berdiam diri kecuali dia adalah sebuah duplikasi, yang mengulang-ngulang
perkataannya, yang menampakkan perilakunya dalam perbuatan-perbuatannya yang
tanpa disadari.
Imam
Ali RA berkata, “bergaullah dengan orang yang bertakwa dan berilmu, niscaya
kalian bisa mengambil manfaatnya, karena bergaul dengan orang yang suka berbuat
baik bisa diharapkan (kebaikannya). Jauhilah kerusakan, sungguh jangan bergaul
dengan orang-orang yang rusak moralnya, karena bergaul dengan mereka akan
menular kepada Anda. Janganlah menjalin hubungan dengan orang yang hina (rendah
akhlaknya) karena itu akan menular kepadamu. Pilihlah temanmu. Adapun manfaat bergaul, yaitu:
a) Ajang memastikan identitas diri
Anak
bisa melihat apakah dirinya populer di lingkungan teman-temannya atau
tidak. Sebab,
yang terlibat jalan bareng teman adalah anak-anak yang sudah terpilih di dalam peer
group-nya. Untuk terpilih di dalam peer group biasanya
harus memiliki persyaratan tertentu. Jika anak terpilih berarti ia sudah
diterima di lingkungan peer group-nya dan ini bisa membuat anak
lebih percaya diri, ia pun akan lebih memahami identitas dirinya.
b) Meningkatkan kemampuan berinteraksi
dan ikatan pertemanan
Banyak
hal yang bisa dilakukan saat jalan bareng teman, mereka bisa tukar pikiran,
sharing, saling membantu, saling mengingatkan, dan lainnya. Secara langsung hal
ini akan meningkatkan kemampuan anak dalam berinteraksi sosial. Kegiatan ini
pun akan meningkatkan kemampuan anak dalam ikatan pertemanannya.
c) Memenuhi kebutuhan otonomi
Saat
jalan bareng teman, anak bisa dan bebas menentukan sendiri apa yang ia mau. Hal
ini membuatnya senang karena otonominya saat itu digunakan dengan lebih
leluasa, bebas dari aturan yang mungkin menurutnya mengekang. Selama hal tersebut wajar, dan sesuai
dengan syariah Islam.
d) Memperkaya pengalaman
Pengalaman
anak terhadap dunia luar akan meningkat. Misalnya, ketika menonton film di
bioskop, ia tahu banyak informasi yang di sajikan di film tersebut; ketika
makan di restoran, ia jadi tahu bahwa makanan di restoran berbeda dari masakan
di rumah; ketika bermain di game zone, ia tahu situasi dan
kondisinya yang begitu ramai dan riuh; ia juga bisa bertemu dengan berbagai
karakter orang beserta gaya dan model berbusananya; ia tahu apa saja yang
sedang tren pada saat itu, dan lain-lain4.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa pria dan wanita memang harus menjaga batasan dalam pergaulan. Dengan begitu akan terhindarlah hal-hal yang tidak diharapkan. Tapi nampaknya rambu-rambu pergaulan ini belum sepenuhnya difahami oleh sebagian orang. Karena itu menjadi tanggung jawab kita menasehati mereka dengan baik. Tentu saja ini harus kita awali dari diri kita masing-masing. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menjauhkannya dari perbuatan tercela dan perbuatan yang tidak terpuji. Aminn.
DAFTAR
PUSTAKA
Justitia,
S. Adab Menjaga Pergaulan Dalam Islam. (BLURB INC., 2021).
M. Anugrah
Arifin, M. P. . AQIDAH AKHLAK (Berbasis Humanistik). (Lakeisha, 2019).
Budhy
Munawar. Argumen Islam Untuk Pluralisme islam progresif dan perkembangan
diskursusnya. (Grasindo, 2010).
Departement
Agama RI, Al qur’an dan terjemahannya. (PT syamil cipta media, 2005).

Komentar
Posting Komentar